Pacaran Itu untuk Putus
Antologi Cerpen "Serpihan Takdir"
PACARAN ITU UNTUK PUTUS
Rizki Amaliyah
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu… ohh
Seperti udara yang ku hela,
Kau selalu ada…
Dealova,Once--
Begitulah sepatah lagu favorit Kami, yang selalu Kami nyanyikan saat Kami bersama. Ku ingat tatapan matanya yang penuh kasih sayang , matanya berbicara seolah Aku lah yang paling Dia cintai dari segalanya.
Kejadian itu berbeda dengan hari ini, Dia menghilang , “Kau Selalu Ada” sekarang selalu tiada. Ku menahan rindu, menahan rasa takut kehilangan, yang saat itu Aku sangat mencintainya.
Ku ambil telepon genggam ku dan ku kirimkan pesan untuknya.
“Ada apa sama kamu? Ada yang salah dari aku? Ngomong aja”
Di menit ke lima, sepuluh, tiga puluh, akhirnya dia membalas pesanku.
“Ada yang mau aku omongin ke kamu, nanti malam aku telpon ya, aku jelasin semuanya” Katanya
“Baiklah, Aku tunggu, jam berapa kamu mau telpon?” Kataku
“Jam 8” Balasnya
Saat ini pukul 9 pagi, Aku memikirkan apa yang ingin Dia jelaskan padaku, apakah penjelasan yang dia maksud adalah karena tiga hari tanpa kabar dan sapa , atau penjelasan nanti akan menjadi akhir dari hubungan ini…
Ku isi hari-hariku dengan berbagai kegiatan untuk melupakan pukul 8 malam, Aku kerjakan tugas , membantu ibu, merangkum, menulis , membuat poster dan sebagainya.
Sampai pukul 8 malam, Dia menelponku, Aku bersembunyi di bawah bantal agar orangtua ku tidak mendengarku sedang menelpon di jam istirahat.
“Kamu mau ngomong apa?” Tanyaku
“Jadi gini, langsung aja ya, aku mau minta maaf sebelumnya, kamu itu terlalu baik buat aku, aku merasa aku ga pantas buat kamu, jadi aku minta buat kita akhiri hubungan kita sampai sini , sebelum aku bisa sebaik kamu” Katanya
(Aku hanya diam)
Ternyata yang Aku pikirkan benar, bahwa ini akan menjadi akhir dari hubungan yang Kami jalani.
“Halo? Ko diem ? Halo? “ Bunyi pantulan suaranya dari telepon ku yang ku letakkan jauh dari ku.
“Baiklah, apa alasanya?” Tanyaku
“Kan tadi aku udah bilang, kamu terlalu baik buat aku.”Jawabnya
Apa Aku harus jahat supaya Dia tidak melakukan hal ini padaku? Sungguh alasan yang tidak logis. Sedih, marah, bingung, semuanya di pikiranku.
“Baiklah, kalau itu mau Kamu” Jelasku
“Sekali lagi aku minta maaf yah, Aku cuma nyaman sama kamu, mungkin aku belum bisa sepenuhnya mencintai kamu” Katanya
Aku putuskan sambungan teleponku tanpa menjawabnya.
Apakah ini yang aku tunggu-tunggu? Berharap penjelasanya adalah kata-kata manis ternyata tidak semanis yang Aku pikirkan. Aku tidak menyangka perkataan terakhir yang Dia ucapkan itu sangat menusuk hati ku. Memang cinta itu tidak sepenuhnya hanya untuk kekasih, cinta diberikan untuk orang-orang terdekat, sahabat, orang tua, atau mungkin untuk mantan.
Beberapa hari kemudian, Aku melihat Display Picture di Account BBM nya bersama wanita lain. Secepat itukah dia menggantikan Aku? Terpukul dengan perlakuannya padaku, Aku hanya bisa diam dengan banyaknya pertanyaan dari teman-temanku tentang apa yang terjadi. Ya baik, Aku sangat mengambil pelajaran dari kejadian ini, alasan yang Dia berikan tidak logis saat itu
Ah sudahlah, masa lalu yang buruk adalah pembelajaran, malah Aku sangat bersyukur karena dijauhkan dari laki-laki yang tidak mencintaiku dengan hati yang tulus. Bodohnya Aku ,Aku keluar dari prinsipku untuk tidak pacaran. Malah Aku nekat untuk terjun ke jurang yang dalam.
Tiga tahun berlalu, semenjak putus dari Dia, Aku kembali untuk tidak pacaran sampai saat ini, karena Aku berpikir bahwa
Pacaran itu untuk putus, entah karena menikah atau berpisah.
Walaupun Dia hadir kembali, entah untuk apa Dia datang ke kehidupanku lagi, perlakuannya mengisyaratkan untuk kembali menjalani pacaran dengan ku, memanggilku dengan panggilan saat Aku bersamanya dulu. Aku tidak membencinya, Aku telah memaafkan Dia, dan Aku anggap Dia seperti teman biasa.
Allah berikan pelajaran untukku dari kejadian itu, Aku tidak mau lagi mendengar janji atau ungkapan dari seorang laki-laki yang hanya mengajak pacaran. Aku akan menunggu laki-laki yang kelak mengajakku menikah. Pacaran hanya janji atau ungkapan sementara, yang akan hilang jika angin menghembus keduanya, Pacaran pun hanya membawa kemaksiatan, pacaran dapat mendekati untuk melakukan zina, entah itu zina fisik, mata atau hati. Aku bahagia hidup terbebas dari pacaran, Aku merasa terlindungi dari perbuatan yang dilarang. Terlebih Agama Islam sudah memberi petunjuk untuk mejauhi segala hal yang mendekati perbuatan zina. Terimakasih Yaa Allah, Tuhan semesta alam yang memberi perlindungan.
Terimakasih untuk segala coretan yang sudah Kau tulis di kehidupanku, banyak sekali pelajaran yang dapat ku pelajari.
--------------------------------
Tentang Penulis,
Namaku Rizki Amaliyah, aku lahir di Tegal 16 Desember 1996. Aku dilahirkan dari Rahim seorang ibu bernama Purwati , dan Ayahku bernama Hermanto. Usiaku kini 18 Tahun, tinggal di Jalan Sultan Agung , Pondok Ungu Bekasi Barat.
Aku anak pertama dari dua bersaudara, adikku laki-laki berusia 10 Tahun.
Aku kuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta, iya. Universitas Negeri Jakarta. Jurusan yang aku pilih Ilmu Agama Islam,Fakultas Ilmu Sosial. Aku baru semester pertama dan banyak hal baru yang aku hadapi, hobiku menulis, design , dan lain lain. Hehe
Aktivitas selain kuliah aku mengikuti kelas design, berdagang jilbab, bakso (punya orangtua), Koor Akhwat Majelis Rasulullah Saw, dan beberapa Organisasi lainnya.
Aku memang sudah lama menulis, yang disayangkan adalah penulisanku belum masuk kriteria benar dalam penulisan, jadi aku masih banyak belajar dari teman-teman writerpreneur Indonesia.
Aku mengelola beberapa Blog, kira-kira ada 6 Blog, dan yang aku tekuni yaitu akurizkyamaliah.blogspot.com .
Aku ingin sekali mempunyai buku, dan karyaku dapat diteima di masyarakat atau pembacanya. Semoga mimpiku ini dapat terwujud. Aamiin…
Komentar
Posting Komentar