Menjadi Da'i yang Sukses


Menjadi Da’i yang Sukses
Dr. Sa’id al-Qahthani


Biografi Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Sa’īd bin ‘Alī bin Wahf al-Qaḥṭānī lahir pada tanggal 25 Syawal 1372 H di lembah al-‘Arain, lembah al-Isalī di pegunungan as-Saud, timur kota Madinah sekitar 150 km. nama lengkap beliau yaitu Sa’īd bin ‘Alī bin Wahf bin Muḥammad al-Qaḥṭānī, dari keluarga Juhaisy, kabilah keluarga Sulaimān al-Ḥarqān dari ‘Ubaidah Qaḥṭān (shamela.ws/index.php/ author/150). Beliau hidup di daerah gurun dan masa kecilnya digunakan untuk menggembala kambing sebagaimana para Nabi utusan Allah melakukannya, barulah ketika usianya menginjak 15 tahun yaitu pada tahun 1387 H beliau belajar di madrasah ibtidaiyah al-‘Arain, yang dilanjutkan ke madrasah Tsanawiyah king Abdul ‘Azīz Riyadh dan lulus pada tanggal 11 Rajab 1400 H yang setahun sebelumnya beliau sudah pindah ke kota Riyadh (www.binwahaf.com/portal/pages/view/22.html). Pada tahun 1401 H Sa’īd bin ‘Alī bin Wahf al-Qaḥṭānī melanjutkan mencari ilmu di Universitas al-Imam Muhammad bin Su’ud, fakultas Ushuluddin, di jurusan Umum (al-Qismu al-‘Ām) dan lulus pada tahun 1404 H. beliau belajar as-sunnah at-tamhidiyah untuk memperoleh Magister pada fakultas Ushuluddin, jurusan as-Sunnah wa ‘Ulumuha di universitas yang sama pada tahun 1405 H dan lulus dengan bernilai mumtaz dari risalah yang berjudul “al-Ḥikmah fī al-Da’wah ilā Allah” pada tanggal 25 Muharram 1412 H. gelar Doktor beliau juga raih di universitas yang sama dengan nilai mumtaz serta summa cum laude dari disertasinya yang berjudul “Fiqh adDa’wah fī Ṣaḥīh al-Imām al-Bukhārī” pada tanggal 15 Dzulqa’dah 1419 H. Di samping itu, beliau juga belajar dengan syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bāz mulai tahun 1400 H sampai wafatnya pada tanggal 27 Muharram 1420 H.
Isi buku ini tediri dari Sembilan bab yang berisi pembahasan mengenai kunci menjadi da’I yang sukses.
Bab Pertama : Ilmu yang Bermanfaat
a.       Pentingnya ilmu pengetahuan
b.      Pembagan ilmu pengetahuan
c.       Praktek ilmu pengetahuan
d.      Cara-cara mendapatkan ilmu pegetahuan
Bab Kedua : Hikmah
a.       Pengertian hikmah
b.      Pentingnya hikmah
c.       Pembagian hikmah
d.      Tingkatan hikmah
e.       Cara untuk mendapatkan hikmah
f.       Memposisikan manusia pada tempat dan derajat
Bab Ketiga : Kearifan
a.       Pengertian sikap arif
b.      Pentingnya sikap arif
c.       Bentuk penerapan sikap arif
d.      Cara menjadi orang yang arif
Bab Keempat : Kemantapan dan Kematangan
a.       Pentingnya kemantapan / kehati-hatian
b.      Pentingnya sikap kehati-hatian
c.       Bentuk penerapan sikap berpegang teguh dalam berdakwah
d.      Sikap tergesa-gesa
Bab Kelima : Kehalusan dan Kelemahlembutan
a.       Pengertian sikap halus dan lemah lembut
b.      Pentingnya sikap halus dan lemah lembut
c.       Bentuk penerapan dari sikap halus dan lemah lembut
Bab Keenam : Kesabaran
a.       Pengertian sikap sabar
b.      Pentingnya sikap sabar dalam berdakwah
c.       Hukum bersabar
d.      Macam-macam sabar
e.       Bentuk penerapan sikap penyabar dan pemberani dalam berdakwah
f.       Tata cara menjadi seorang yang penyabar
Bab Ketujuh : Keikhlasan dan Kejujuran
a.       Pengertian ikhlas dan jujur
b.      Pentingnya keikhlasan
c.       Niat
d.      Bahaya , macam dan pembagian sifat riya’
e.       Cara-cara mendapatkan keikhlasan dan cara mengobati penyakit riya’
f.       Jujur
Bab Kedelapan : Keteladanan yang Baik
a.       Pengertian keteladanan yang baik
b.      Pentingnya keteladanan yang baik
c.       Kewajiban menjadi teladan yang baik
Bab Kesembilan : Akhlak yang Baik
a.       Pengertian akhlak yang baik
b.      Pentingnya akhlak yang baik dalam berdakwah
c.       Cara memperoleh akhlak yang baik
d.      Cabang dari akhlak yang baik dan penerapannya dalam berdakwah.
Pedoman bagi seorang dai yang sukses ini merupakan upaya pembenaran, agar diharapkan seorang dai mampu meluruskan hal-hal yang melenceng, dan kemudian diluruskan secara moderat, bijak dan mantap.
Ilmu yang bermanfaat terbagi menjadi tiga macam. Pertama, ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya. Kedua, Ilmu tentang apa yang telah diberitahukan oleh Allah seperti cerita masa lalu dan cerita masa depan. Ketiga, ilmu tentang apa yang telah diperintahkan Allah seperti ilmu yang berhubungan dengan hati dan anggota badan.
Hikmah terbagi menjadi dua. Pertama hikmah ilmiyah dan kedua hikmah amaliyah. Begitu juga hikmah ini memiliki beberapa tingkatan. Untuk mendapatkan sifat hikmah ini adalah apabila seorang dai dapat berprilaku bijak,  beramal dengan dasar ilmu yang disertai dengan kejujuran, pengalaman dan uji coba, strategi yang bijak, dan memahami dasar-dasar dakwah.
Sifat arif , sifat tabah, sifat lemah lembut, sifat sabar, jujur dan ikhlas merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang dai yang ingin dakwahnya sukses. Sifat-sifat ini harus tertanam dalam hatinya dengan tujuan Allah semata.
Sesungguhnya untuk menjadi panutan yang baik adalah jika seorang dai menjadi teladan atas apa yang telah ia dakwahkan kepada masyarakat dan adanya kesesuaian dengan perkataan dan perbuatannya. Menjadi contoh yang baik dalam masyarakat adalah suatu keharusan bagi seorang dai yang ingin berhasil, karena masyarakat akan sangat detail melihat dai tersebut dan dai tersebut telah berada dalam pengawasan orang banyak.
Akhlak yang baik merupakan suatu pedoman utama untuk menjadi seorang dai yang sukses. Apabila seorang dai memiliki akhlak yang mulia , maka seluruh manusia akan mencintainya dan bahkan musuh-musuhnya sekalipun. Sehingga atas izin Allah dia dapat meraih apa yang diinginkan dakwahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah berjanji? Pernah mengkhianati ?

Kuliah Atau Kerja

lelahnya hari ini