Sepenggal Kisah Inspirasi
Desember 2011, Aku genap berusia 15
tahun, duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di salah satu SMP Negeri
di Jakarta Timur. Kata orang, usia segitu adalah usia monumental untuk mencari
jati diri. Masa pancaroba yang penuh gejolak dan semangat kebebasan, termasuk
dalam pergaulan.
Sebagian dari teman-temanku sudah
mulai diberikan kebebasan oleh orangtuanya dalam bergaul. Ada yang diberi motor
karena mereka dirasa berhak mendapatkan kendaraan untuk pergi kesekolah dengan
layak meskipun masih dalam status seragam putih biru. Ada juga yang boleh pergi
ke mana pun dan dengan siapa pun asalkan dengan izin orangtua. Banyak dari
temanku yang menggunakan kesempatan izin orangtuanya dengan salah, bebas
benar-benar bebas, pergi tak kenal waktu sebelum di tegur orangtuanya. Aku
bertanya dalam hati, Salahkah Aku berteman dengan mereka? Aku ingin mempunyai
teman-teman yang lebih baik dari mereka agar aku tidak selalu dalam kebebasan.
Bukan berarti Aku tidak mau berteman lagi dengan mereka, setidaknya Aku
mempunyai pegangan untuk jati diri ku kelak, mengenal teman-teman yang baik seperti
saat Aku melintasi sebuah acara yang di dalam nya ada sekumpulan orang dan Aku
yakin mereka bersahabat, menurut ku sangat beruntung berada bersama dalam acara
itu.
Semilir angin sore taman sekolah ku
yang ramai, Aku duduk di teras Mushola yang bersih sambil memandangi awan-awan
yang menaungi puluhan sayap-sayap merpati. Begitu indah, tenang, damai, membuat
pikiranku melayang dan merasa tenang pula, melepaskan pikiran yang selalu
bertanya-tanya dimana Aku mendapat teman seperti itu. Tak lama kemudian,
tiba-tiba ada seseorang datang, Tajudin duduk di sebelah ku, Tajudin satu
angkatan dengan ku, hanya berbeda kelas. Aku memanggilnya Kakak karena dia
lebih tua dariku.
“ Eh
kakak, hmm.” Sapa ku berbasa-basi.
“
Ngapa de? Diem aje.” Jawabnya dengan logat betawi.
“ Aku
kemarin lewatin acara islami gitu kak, itu apa ya?”
“
Dimana? Jam berapa?” Tanyanya.
“ Di
pinggir jalan Buaran sana, sekitar jam 8 malam.” Jawabku.
“ Oh majelis kali maksud ade. Iyaudah
dateng sono pake baju item terus pake cadar, cakep dah tuh. Hahaha.” Jelasnya.
“ Majelis itu apa kak?” Tanyaku
sangat bingung.
“ Itu acara ada pembacaan maulid de
buat Nabi kita, dateng aje. Ntar juga paham.” Katanya.
Oh begitu, walaupun Aku masih
sangat bingung mengenai hal baru bahkan sangat baru ditelinga ku, apalagi
sampai memakai cadar. Ini sangat membuat Aku penasaran.
Kemudian Aku sering melewati jalan
itu, tetapi tidak ada lagi acara seperti kemarin. Kemudian Aku bertanya ke
warga sekitar dan ternyata acara di tempat itu tidak rutin, yang rutin ada di
pusatnya, lalu Aku minta alamat pusatnya dan nama majelis nya adalah Majelis
Rasulullah Saw yang berpusat di Masjid Raya Al Munawar , Pancoran Jakarta
Selatan.
Aku pulang dan duduk dikamar mungil
ku dan mengambil coretan tinta bertuliskan alamat majelis yang tadi Aku
dapatkan. Aku pandangi dan bertanya-tanya, apa yang akan Aku lakukan jika Aku
sudah berada di dalam majelis itu? Apa Aku hanya diam dan cukup mengetahui itu?
Atau akan istiqomah ? Bosan ? Atau … Ah , pikiran ku kacau balau, sungguh Aku
tidak ingin ragu untuk ikut dalam sesuatu hal yang baik, tetapi acara ini
selalu malam, bagaimana Aku bisa keluar untuk datang ke acara ini, mengingat
kedua orangtua ku yang melarang Aku keluar malam. Aku memikirkan bagaimana cara
nya agar Aku bisa ikut acara ini untuk yang pertama kali nya, ternyata Aku
tidak bisa karena takut berbohong.
Entah ini keajaiban atau pintu
hidayah Allah Swt yang terbuka, Majelis Rasulullah Saw mengadakan acara di
dekat tempat tinggal ku, Kota Harapan Indah Bekasi Barat, maka Aku tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan ini, sekaligus Aku ajak keluarga ku untuk ikut ke
acara itu. Ini kali pertamanya Aku duduk di Majelis Rasulullah Saw, berada
dalam keramaian bak di lautan manusia. Pria berpeci putih, Wanita berjilbab
rapi, para Ustadz dan Ulama duduk di atas panggung melukiskan suasana baru di
mata ku. Allahu Akbar, suasana yang sangat indah, semua melantunkan lafadz
Allah , memuji Rasulullah Saw, bershalawat dan berdzikir dilakukan
berulang-ulang. Di tengah acara berdiri salah satu dari mereka yang duduk di
atas panggung, Aku ingin melihatnya, tetapi Aku berada dalam kerumunan orang
yang ingin melihatnya pula. Kemudian mata ku jelas melihat orang tersebut,
tanpa sadar orang-orang disekitar ku kembali duduk yang sebelumnya berdiri
seakan-akan berebut untuk melihat nya.
Aku masih berdiri, sungguh indah
pemandangan lautan muslim duduk bersama dalam tempat yang amat luas. Aku
mendengarkan orang tersebut memberikan informasi
“Assalaamu’alaikum Warohmatullahi
Wabarokaatuh, hadirin yang dimuliakan Allah Subhaanahu Wa Ta’aala, bahwasannya
guru mulia kita Habibana Munzir bin Fuad Al Musawa tidak bisa hadir di
tengah-tengah kita, beliau sangat ingin hadir, tetapi ternyata fisik nya tidak
mampu untuk bangun, kepala belakangnya terasa sakit, dan tidak boleh di
paksakan, beliau berpesan bahwa beliau akan hadirkan niat nya ditengah-tengah
kita, maka dari itu mari tetap tuntut ilmu dengan semangat lillaahita’aala,
kita do’akan agar disehatkan badan nya, agar bisa bersama-sama berkumpul
kembali bersama kita, Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.”
Sebenarnya Aku ingin sekali
bertanya-tanya tentang majelis ini, ingin lebih tahu latar belakang dari
perkumpulan yang mulia ini, karena ini adalah perkumpulan yang paling indah
pertama yang Aku ikuti. Yaa Allah, semoga Aku mendapat teman baru disini,
berikan kemudahan Mu Yaa Allaah.. Aamiin…
Selama acara berlangsung, Aku hanya
melihat sebelahku dan mengikutinya, Dia angkat tangan, Aku angkat tangan, Dia
mengucap Shollu’alaih, Aku pun mengikutinya, sembari belajar Aku tertangkap
sedang meniru apa yang Dia lakukan, di tanyalah nama ku,
“ Siapa nama mu ?” Tanya nya.
“ Aku Rizki Amaliyah, kalo kaka?”
“ Aku Fitri, salam kenal ya
cantik.” Jawabnya.
“ Alhamdulillah, maaf jika Aku
meniru, jujur Aku baru pertama ada di sini, Aku berharap kaka mau ajari Aku.”
Jelasku malu.
“ MasyaaAllah, tentu dek, kaka akan
jelaskan bagaimana jalannya acara ini, tetapi jangan disini, disini saat kita
mengaji, bagaimana kalau lain kali kita bertemu?” Ajaknya.
“ Mau mau mau kak, hehehe. Aku
boleh minta nomor kakak?” Jawabku bersemangat.
Kami bertukar nomor telepon, dan
melanjutkan mengikuti jalan nya acara. Allah begitu mudah mengabulkan do’a ku,
Aku sudah mendapat teman disini dan semakin terbuka peluang ku untuk mengetahui
lebih dalam tentang perkumpulan yang indah ini. Aku sangat bahagia akan
kebesaran Allah yang memberi ku kesempatan terbaik ini.
Acara selesai dengan indah,
tiba-tiba sudah tererat tangan yang amat kuat pegangannya di tangan ku, Ayah ku
sudah menggandeng ku menuju jalan keluar yang begitu penuh dengan jamaah yang
datang, Ayah ku mencari Ibu ku sambil memegang tangan ku dengan erat, sungguh
kasih sayang yang begitu dalam. Kami bertemu dan bersama-sama berjalan pulang
diiringi sholawat yang sangat menyentuh hati terlebih bila memejamkan mata.
Sesampainya dirumah,
“Besok-besok kalo ikut begituan
lagi bahaya neng kalo sendiri, apalagi sampe larut malam gini, kalo mau kesitu
lagi, izin dulu ya sama Ayah dan Ibu.” Jelas Ayahku.
“ Iya, Ayah.” Aku mengiyakan.
Malam
ini sangat melelahkan, untuk esok hari yang penuh aktivitas, Aku baringkan
badan ku menatap langit-langit rumah dan berdo’a agar Allah tetap memudahkan
jalan untuk ini. Ku pejamkan mata dan tertidur pulas.
Adzan
berkumandang membangunkan seluruh umat muslim untuk melaksanakan Sholat Shubuh,
tanda syukur masih bisa bangun mengawali berbagai kegiatan hari ini. Aku ingin
berterimakasih kepada Kak Judin atas pengalaman baru yang aku rasakan semalam,
rasanya ingin Aku ceritakan semua yang terjadi semalam , tetapi waktu tidak
mengizinkan. Kita sama-sama sibuk dan sampai Aku melupakan niat ku itu.
Sampai
pada saat ini, Aku nyaman berada dalam majelis ini, majelis Rasulullah Saw,
karena ikatan persaudaraan dan rasa kekeluargaan yang begitu dekat membuatku
tidak ingin terlepas dari ini, sudah terasa seperti keluarga sendiri. Tidak
hanya majelis Rasulullah Saw saja, Aku pun turut ikut dalam beberapa majelis di
daerah bekasi, tetapi ada kejadian yang begitu membuatku lirih akan malam itu.
Pintu rumah tak kembali terbuka saat Aku pulang dari majelis, sekitar pukul
23:12. Kenapa ini, Aku harus bagaimana, Apa yang terjadi dengan kedua orangtua
ku? Tanyaku lirih ke diri sendiri.
Ayah, Ibu, maafkan Aku, sungguh Aku hanya ingin
mempunyai teman baik, dan berjuang di jalan dakwah. Akhirnya malam itu Aku
tidur di kost wanita salah satu pegawai
perusahaan dekat tempat tinggal ku, Aku ceritakan semua padanya sambil
meneteskan air mata, di tenangkanlah hatiku olehnya, di usap punggung ku dan
menyuruh ku beristirahat. Kembali pulang esok hari , dijelaskan kan lah maksud kedua orangtua ku malam itu.
“ Nak, Ayah dan Ibu akan melarang mu
mengikuti pengajian dalam majelis apapun, karena telah menyita waktu istirahat
mu, terlarut malam dan fisik tak terkendali. Ayah dan Ibu khawatir akan kondisi
mu, Nak.” Jelas Ayah ku.
“ Maafkan Aku, Ayah. Aku saat ini
sedang bergejolak semangat membantu para pejuang dakwah di luar sana, karena
tanpa para pejuang-pejuang dakwah yang meneruskan dakwah Rasulullah Saw, islam
mungkin tidak lagi tersampaikan suatu saat nanti, Aku berharap Ayah dapat
mengerti.” Jelasku singkat.
“Sudah, makan sana.” Perintah Ayah.
Kenapa Aku di larang? Ini kegiatan
baik, dan menurut ku tidak ada yang salah. Lalu kenapa Aku di larang?.
Pertanyaan ku telah terjawab dengan penjelasan yang singkat dari Ayah, Aku
yakin Ayah pasti mengerti, dan Aku mengerti maksud penjelasan Ayah saat itu,
memang tidak bisa di pungkiri, pulang terlarut malam dengan kondisi yang selalu
lelah dan kegiatan sedari pagi membuatku mengeluarkan tenaga ekstra di setiap
kegiatan. Membuatku mudah sakit karena kehabisan tenaga dan tidak mengatur pola
hidup sehat. Kemudian dalam beberapa bulan Aku tidak terlalu memadatkan
kegiatan ku di ekstrakulikuler dan majelis, terfokus di akademik dan ruhani ku
di dalam rumah, yang lebih khusyuk dan terasa tersampaikan ke hati. Demi ridho
orangtua ku, karena ridho Allah Swt bergantung dengan ridho orangtua.
Saat ini Aku fokus kuliah dan masa
depanku, kegiatan di majelis tidak akan Aku tinggalkan, karena dari sana lah
Aku bisa seperti ini, berbagai pelajaran hidup, pengalaman yang tidak semua
orang dapatkan, seperti guyuran hujan dalam naungan guru mulia berharap Ridho
Allah turun untuk Kami umat Rasulullah Saw. Kisah ini sangat berkesan di dalam
hidupku, dimana Allah Swt selalu memberikan kemudahan dan perlindungan-Nya
untuk ku. Bersyukur adalah kata yang teramat luas untuk kisah ku ini, bahkan
untuk kisah hidup manusia. Allah Swt memberikan segala kemudahan dalam
kesulitan. Allah Swt memberikan jalan untuk orang-orang yang ingin berada dalam
jalan-Nya, Allah Swt tidak pernah menutup jalan bagi hamba-Nya yang ingin
kembali. Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Nya, bersyukurlah, maka
kamu akan mengerti betapa luas kecintaan Allah Swt untukmu.
Komentar
Posting Komentar